K.H. A Masruri Tinggalkan Jabatan Penghulu, Mengabdikan Diri untuk Santri

K.H. Ahmad Masruri (1901–1971) merupakan salah satu ulama yang berperan dalam perkembangan dakwah Islam di wilayah Kebumen, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai sosok alim yang memilih mengabdikan hidupnya untuk mengajar santri daripada mempertahankan jabatan formal.

Jejak dakwah K.H. Ahmad Masruri tidak terlepas dari tradisi keilmuan keluarga. Silsilah tersebut bermula dari KH Imam Rozi, yang disebut sebagai salah satu anggota laskar Pangeran Diponegoro. Keturunannya, KH Abu Suruj, kemudian berdakwah di wilayah Kebutuh, Sokaraja Kulon.

KH Abu Suruj memiliki 18 anak. Anak sulungnya, KH Asfiya, meneruskan perjuangan dakwah keluarga yang kemudian dilanjutkan KH Imam Munhasir di Kebonkapol, Sokaraja. Dari keluarga tersebut, dikenal tiga bersaudara yang turut berkiprah dalam dakwah, yakni K.H. Ahmad Masruri, K.H. Ahmad Marwazi, dan K.H. Ahmad Bunyamin.

Untuk memperdalam ilmu agama, K.H. Ahmad Masruri menempuh pendidikan di sejumlah pesantren. Ia pernah belajar di Pesantren Bogangin, Sumpiuh, Pesantren Lirap di Kebumen, Pesantren Jamsaren di Solo, dan Pesantren Jampes di Kediri. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan keilmuannya ke Makkah dan menetap di Tanah Suci selama kurang lebih tujuh tahun.

Cucunya, Gus Maskun, menuturkan bahwa K.H. Ahmad Masruri menghabiskan sekitar tujuh tahun untuk belajar di Makkah. Di sana, ia juga bertemu dengan KH Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Keduanya disebut pernah belajar dalam lingkungan keilmuan yang sama.

Ketika mendapat kesempatan untuk menempati posisi dalam struktur organisasi NU, K.H. Ahmad Masruri memilih untuk berkonsentrasi mengembangkan pesantren dan mengajar masyarakat. Pilihan tersebut mencerminkan komitmennya terhadap pendidikan agama dan pembinaan santri.

Sejak dekade 1920-an, K.H. Ahmad Masruri bersama kedua adiknya aktif mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat. Ia berfokus pada pengajaran dasar-dasar Al-Qur’an, doa wudu, bacaan salat, serta tata cara ibadah. Sementara itu, K.H. Ahmad Marwazi dan K.H. Ahmad Bunyamin mengajar di Madrasah Diniyah.

K.H. Ahmad Marwazi dikenal memiliki kemampuan seni. Ia memainkan biola dan menggunakan pendekatan nazam dalam kegiatan mengajar. Ia juga menulis kitab Singiran Tamriinus Shibyan yang membahas ilmu tajwid serta Tafsirul Iman tentang tauhid. Kedua karya tersebut ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon. Adapun K.H. Ahmad Bunyamin dikenal memiliki kemampuan dalam bidang kanuragan atau bela diri.

Selain mengajar santri, K.H. Ahmad Masruri menyelenggarakan pengajian umum setiap Kamis pagi. Kegiatan tersebut diikuti masyarakat dari berbagai wilayah, antara lain Baturraden, Kedungbanteng, Karanglewas, Cilongok, Purwokerto, dan daerah sekitarnya. Pengajian itu menjadi salah satu sarana penyebaran ilmu agama sekaligus memperkuat hubungan keagamaan masyarakat.

Dalam perjalanan pengabdiannya, K.H. Ahmad Masruri pernah diangkat sebagai penghulu di Kecamatan Baturraden. Namun, ia kemudian mengundurkan diri untuk lebih memusatkan perhatian pada pendidikan santri.

Cucunya, Hj. Mut Arifah, mengenang keputusan tersebut sebagai bentuk kesungguhan K.H. Ahmad Masruri dalam menjalankan pengabdian di bidang pendidikan agama. “Kakek mengundurkan diri sebagai penghulu, selanjutnya beliau memilih konsentrasi mengajar santri,” ujarnya.

Di kalangan para santri, K.H. Ahmad Masruri dikenal sebagai ulama yang alim, berpegang pada tradisi keilmuan salaf, dan ikhlas dalam mengabdikan diri. Keteladanannya tercermin melalui keselarasan antara aqwal atau perkataan dan ahwal atau perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan keluarga, K.H. Ahmad Masruri menikah dengan Nyai Maimunah binti KH Muhammad Sokheh. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai enam anak, yakni Abdul Salam, Abdul Kodir, Ahmad Mussallim Ridlo, Siti Munifah, Ahmad Masykuri, dan Ahmad Muqarrib.

K.H. Ahmad Masruri wafat pada 1971, bertepatan dengan 3 Jumadil Akhir 1391 Hijriah. Setelah kepergiannya, perjuangan dakwah keluarga tetap berlanjut, salah satunya melalui cucunya, HM Maskun Ridlo atau yang akrab disapa Gus Maskun.

Kisah K.H. Ahmad Masruri menunjukkan bahwa pengabdian seorang ulama tidak selalu diwujudkan melalui jabatan formal. Keputusannya meninggalkan posisi penghulu demi mengajar santri menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah dan pendidikan Islam di wilayah Banyumas.