PURWOKERTO — Ratusan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat mengikuti salat Istisqa di Alun-alun Purwokerto, Senin (12/10/2026). Ibadah tersebut digelar sebagai bentuk ikhtiar memohon hujan di tengah kekeringan dan krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Banyumas.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mengatakan salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual masyarakat di tengah kondisi kemarau. Sementara itu, pemerintah daerah terus melakukan penanganan untuk membantu warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.
“Melalui salat ini kita ikhtiar agar Allah SWT menurunkan hujan agar dapat memberi kebermanfaatan,” kata Sadewo.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sumber air dan menghemat penggunaannya selama musim kemarau.
“Kalau Istisqa itu salat permohonan kita kepada Allah agar turun hujan. Usaha kita menjaga sumber-sumber air,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas menyalurkan bantuan menggunakan armada tangki ke sejumlah wilayah terdampak. Kecamatan Purwojati menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian karena mengalami kekeringan cukup parah.
“Setiap hari kita di BPBD itu ya ada enam tangki air, yang setiap hari keliling. Siaga penuh BPBD. Ada yang sopirnya tiga hari enggak pulang bahkan, kita ngebon Kodim,” kata Sadewo.
Usai salat Istisqa, Sadewo berharap hujan segera turun dan membantu mengurangi dampak kekeringan di Banyumas. Ia menyebut kondisi cuaca saat itu mulai terlihat mendung, meski belum dapat dipastikan akan terjadi hujan.
“Sampai sekarang masih (kekeringan), tapi mudah-mudahan dengan adanya kita memohon kepada Allah SWT hari ini, kelihatannya habis salat tadi agak mendung, mudah-mudahan hari ini bisa turun hujan,” ujarnya.
Menurut Sadewo, kekeringan tahun ini berkaitan dengan fenomena El Niño dan mengingatkan pada kondisi yang terjadi pada 2023. Ia mengatakan wilayah yang memang memiliki keterbatasan sumber air, termasuk Purwojati, menjadi salah satu kawasan yang terdampak serius.
“Dan ini kekeringan akibat El Niño ini terulang, dulu terakhir 2023. Yang seperti ini. Ini luar biasa. Tapi mudah-mudahan jangan sampai terlalu berdampak yang negatif,” katanya.
Sebagai langkah jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Banyumas berencana menambah tangki penampungan air dan memetakan sumber air baru. Upaya tersebut juga dilakukan melalui koordinasi dengan TNI, termasuk survei lokasi yang berpotensi menjadi sumber air melalui pembangunan sumur bor.
“Ya, kita mengusahakan ya. Salah satunya kan untuk pencegahan sebetulnya kita ingin membuat tangki-tangki air yang banyak, tapi sumber airnya dari mana,” jelas Sadewo.
Ia mengatakan pemerintah daerah bersama TNI tengah melakukan survei untuk mencari sumber air yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi fiskal daerah.
“Kita sedang survei, kebetulan juga kita dibantu TNI, banyak sumur-sumur bor yang dibangun oleh TNI. Bertahap, kondisi fiskalnya juga,” tambahnya.
Salat Istisqa tersebut dipimpin oleh dosen UIN, Dr. KH Sofyan Mabrur, sebagai imam, sedangkan Taefur Arafat bertindak sebagai khatib.
Dalam khotbahnya, Taefur mengajak jamaah memaknai kemarau panjang sebagai momentum untuk memperkuat rasa syukur, melakukan introspeksi diri, dan menjaga kelestarian lingkungan. Ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak istighfar serta memohon ampunan kepada Allah SWT.
Melalui salat Istisqa dan penanganan di lapangan, masyarakat diharapkan tidak hanya berharap pada turunnya hujan, tetapi juga meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan penggunaan air secara bijak selama musim kemarau.