PURWOKERTO – Potensi buah nanas di Desa Penampi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru melalui hilirisasi teknologi. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mendorong pengolahan nanas menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah sekaligus memanfaatkan limbahnya agar memiliki nilai ekonomi.
Upaya tersebut dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed melalui Pusat Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP) dalam Program Prioritas dan Strategis Ajakan Industri Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Program bertema “Hilirisasi Teknologi Pengolahan Buah Nenas Berbasis Zero Waste untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Koperasi Merah Putih di Wilayah Sentra Komoditas” tersebut dilaksanakan bersama mitra di Desa Penampi.
Rangkaian kegiatan pada 21–22 September 2026 meliputi transfer teknologi, pelatihan, dan pendampingan produksi olahan nanas serta pemanfaatan limbahnya. Unsoed juga memberikan pendampingan pengelolaan usaha koperasi dan persiapan pembangunan fisik Koperasi Merah Putih Desa Penampi.
Selama ini, sebagian besar nanas Penampi masih dijual dalam bentuk segar. Buah yang tidak memenuhi standar sortasi belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian kecil telah diolah menjadi selai dan dodol, tetapi kualitas dan kesiapan produknya untuk dipasarkan masih perlu ditingkatkan.
Melalui pendekatan zero waste, Unsoed mengembangkan diversifikasi produk olahan nanas berupa minuman jeli, ready-to-drink beverage, fruit tea, koktail, squash, dan selai. Limbah nanas juga diolah menjadi pupuk organik cair dan padat.
Ketua LPPM Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, MP., IPU., ASEAN Eng., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan inovasi hasil penelitian dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat serta dunia usaha.
Ketua Program Ajakan Industri sekaligus Koordinator Puskor IHSP LPPM Unsoed, Dr. Santi Dwi Astuti, STP., M.Si., mengatakan kerja sama dengan Desa Penampi telah dimulai sejak akhir 2025.
Program juga mencakup penyusunan SOP, penyediaan peralatan produksi, pengujian penerimaan konsumen, persiapan sertifikasi, serta penyusunan buku teknologi tepat guna dan video tutorial. Pendampingan dilakukan secara langsung maupun daring untuk memastikan teknologi dapat diterapkan secara mandiri.
Penguatan kelembagaan dilakukan melalui pendampingan pengelolaan usaha koperasi, penyusunan model bisnis, studi kelayakan, serta pengembangan sistem produksi, mutu, distribusi, dan pemasaran. Koperasi Merah Putih diharapkan menjadi simpul aktivitas usaha berbasis komoditas unggulan lokal.
Program melibatkan kolaborasi multidisiplin dari bidang teknik sipil, agribisnis, rekayasa pangan, dan keteknikan pertanian. Pengembangan teknologi tersebut menargetkan peningkatan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) dari posisi awal 5 menuju TKT 7 atau 8.
Ke depan, Unsoed akan tetap berperan sebagai mitra teknologi, sementara mitra didorong menjadi penggerak produksi dan komersialisasi. Keberlanjutan program juga akan diperkuat melalui sinergi dengan Politeknik Negeri Bengkalis.
Dengan pendekatan tersebut, nanas Penampi diharapkan tidak lagi hanya menjadi komoditas segar, tetapi berkembang menjadi bahan baku berbagai produk pangan. Limbahnya juga dapat dimanfaatkan sehingga terbentuk ekosistem usaha berbasis nanas yang mendukung penerapan ekonomi sirkular dan meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat.