Unsoed Pasang Alarm Peringatan Dini Banjir di Desa Serang Purbalingga

PURBALINGGA – Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memasang sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jumat (30/10/2026). Pemasangan perangkat ini menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah tersebut pada Januari 2026.

Pemasangan EWS merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat bertajuk Smart Village Tangguh Bencana yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed melalui skema Smart Village. Program ini menggabungkan pemanfaatan teknologi peringatan dini, edukasi kebencanaan, pelatihan kesiapsiagaan, serta konservasi lahan pertanian di kawasan rawan bencana.

Tim Unsoed yang terlibat terdiri atas Ketua Tim Kesiagaan Bencana Unsoed, Dr. Dyah Susanti, S.P., M.P., dan Dr. Zaroh Irayani, S.Si., M.Si., dari Divisi Kajian Ilmiah, serta dua mahasiswa yang membantu proses perakitan teknologi.

Pemasangan perangkat juga mendapat dukungan masyarakat setempat, termasuk ketua RT, kelompok tani, dan komunitas Pemuda Tangguh Bencana. Warga turut menyiapkan dudukan instalasi sebelum tim Unsoed tiba di lokasi.

Dyah Susanti menjelaskan, pemasangan EWS merupakan kelanjutan dari pendampingan Unsoed kepada masyarakat Desa Serang setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor. Pada masa tanggap darurat, Unsoed sebelumnya telah menyalurkan bantuan berupa pelayanan kesehatan, logistik, dan kebutuhan sanitasi.

Pendampingan kemudian dilanjutkan melalui penerapan pengetahuan akademik dan teknologi untuk mendukung mitigasi bencana.

“Kami mencoba memberikan kontribusi dari sisi akademisi maupun teknologi, tidak hanya untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi, tetapi juga untuk mitigasi,” ujar Dyah.

Perangkat EWS tersebut berfungsi memantau curah hujan sebagai salah satu indikator potensi banjir dan tanah longsor. Ketika hasil pengukuran mencapai ambang batas yang telah ditentukan, sistem akan mengaktifkan alarm sebagai peringatan bagi masyarakat di sekitar lokasi.

Untuk menjaga operasionalnya, perangkat dilengkapi panel surya sebagai sumber energi alternatif apabila terjadi gangguan pasokan listrik dari jaringan PLN.

EWS dipasang di pusat aktivitas komunitas Pemuda Tangguh Bencana, tepatnya di Dusun III atau Kaliurip, Desa Serang. Lokasi tersebut dipilih dengan mempertimbangkan riwayat dampak bencana sebelumnya serta kemudahan masyarakat dalam memantau dan menjaga perangkat.

Saat ini, sistem masih menjalani uji coba selama satu minggu untuk memastikan kinerja dan kesesuaiannya dengan kondisi lapangan. Pengujian juga mencakup jangkauan suara alarm, terutama ketika hujan lebat disertai petir.

Keberadaan EWS diharapkan membantu masyarakat mengenali potensi ancaman lebih awal dan mengambil langkah antisipasi. Pengalaman bencana sebelumnya masih menyisakan kekhawatiran bagi sebagian warga sehingga informasi peringatan dini menjadi salah satu kebutuhan penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan.

“Harapannya, dengan adanya alat ini nantinya warga tidak terlalu panik, tetapi tetap bersiaga,” tutur Dyah.

Setelah masa uji coba selesai, Tim Kesiagaan Bencana Unsoed akan melakukan evaluasi bersama masyarakat dan memberikan pelatihan kepada anggota Pemuda Tangguh Bencana serta perangkat desa. Materi pelatihan mencakup mekanisme kerja perangkat, prosedur penggunaan, dan koordinasi ketika sistem mengeluarkan peringatan.

Pengelolaan EWS selanjutnya direncanakan diserahkan kepada pemerintah desa agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara berkelanjutan. Meski demikian, Unsoed tetap membuka ruang pendampingan dan pemantauan melalui komunikasi dengan masyarakat setempat.

Dyah menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai kondisi lingkungan dan prosedur penyelamatan diri. Pengurangan risiko bencana membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk dalam mengenali tanda-tanda alam dan menyiapkan jalur evakuasi yang aman.

“Persiapan bencana tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Masyarakat perlu bersama-sama membaca tanda-tanda alam, tetap waspada, dan menyiapkan jalur evakuasi yang aman,” pungkasnya.

Selain penguatan sistem peringatan dini, Dyah juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian kawasan hulu dan lereng sebagai daerah penyangga lingkungan. Upaya konservasi dapat dilakukan melalui perlindungan pohon-pohon besar serta penanaman pohon konservasi dan tanaman produktif. Dengan demikian, upaya menjaga keseimbangan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat.