Inovasi Permainan Edukasi Halal UIN Saizu Curi Perhatian Menag di IES Expo

JAKARTA – Halal Center Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto memperkenalkan inovasi permainan edukatif tentang halal dalam Indonesia Ekonomi Syariah (IES) Expo di Masjid Istiqlal, Jakarta, 30 Oktober hingga 1 November 2026. Selain itu, Halal Center UIN Saizu turut memamerkan berbagai produk halal Penginyongan hasil pendampingan sertifikasi halal.

Kehadiran stan Halal Center UIN Saizu menarik perhatian Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, saat meninjau lokasi pameran. Menag tampak tertarik dengan permainan edukatif yang dikembangkan tim Halal Center sebagai media kreatif untuk mengenalkan pengetahuan tentang produk halal kepada masyarakat.

IES Expo diselenggarakan oleh Badan Pengelola Masjid Istiqlal dan dibuka oleh Menteri Agama. Kegiatan tersebut diikuti 46 peserta dari berbagai instansi, antara lain Kantor Wilayah Kementerian Agama tingkat provinsi, perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, serta perbankan syariah.

Selain permainan edukatif, Halal Center UIN Saizu menampilkan sejumlah produk halal Penginyongan dari pelaku usaha yang telah mendapatkan pendampingan sertifikasi halal. Produk-produk tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi usaha lokal sekaligus menunjukkan kontribusi pendampingan Halal Center dalam memperluas ekosistem produk halal di Banyumas dan sekitarnya.

Stan Halal Center UIN Saizu dihadiri Kepala Halal Center UIN Saizu, Dani Kusmastuti, Direktur Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) UIN Saizu, Oki Edi Purwoko, beserta tim.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin Umar menekankan bahwa pengembangan industri halal tidak cukup hanya berorientasi pada kepemilikan sertifikat. Pelaku usaha juga perlu meningkatkan profesionalisme, memperbaiki pengelolaan usaha, memperhitungkan kebutuhan modal dan risiko, serta memperkuat manajemen data, pembukuan, dan keterbukaan informasi.

“Selain itu harus ada kemasan yang baik, thoyib-nya harus dipikirkan, agar bisa lebih bersaing di pasar global,” ungkapnya.

Saat membuka expo, Menag juga menyoroti besarnya potensi ekonomi syariah di Indonesia yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Ia mengibaratkan ekonomi Islam sebagai raksasa yang sedang tidur karena potensi umat belum sepenuhnya dikelola menjadi kekuatan ekonomi.

Menurut Nasaruddin, Indonesia memiliki sekitar 800 ribu masjid dan 200 ribu musala yang dapat dikembangkan sebagai pusat aktivitas ekonomi umat. Salah satu peluangnya melalui pengembangan unit usaha produktif, seperti minimarket berbasis masjid dan musala.

“Kita punya 800.000 masjid, 200.000 mushala, seandainya di depan masjid atau mushala tersebut ada minimarket, seharusnya yang paling kaya adalah umat muslim di Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi zakat, wakaf produktif, infak, dan kurban sebagai instrumen keuangan sosial Islam yang dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Pengelolaan yang produktif dan profesional dinilai dapat menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.

Selain penguatan ekonomi, Menag mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dalam setiap aktivitas ekonomi. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, menurutnya, harus memperhatikan prinsip keberlanjutan agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.

“Bagaimana bisa khusyuk dalam beribadat kalau di lingkungannya terjadi bencana,” tegasnya.

Kepala Halal Center UIN Saizu, Dani Kusmastuti, menyambut positif penyelenggaraan IES Expo. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas literasi halal sekaligus memperkenalkan layanan dan capaian Halal Center kepada masyarakat.

“Expo ini menjadi ajang strategis bagi Halal Center Saizu meliterasi halal, mengabarkan kepada publik tentang berbagai layanan Halal Center Saizu dan kinerjanya sekaligus menampilkan produk-produk halal Penginyongan dampingan kepada publik luas,” ujarnya.

Melalui partisipasi dalam IES Expo, Halal Center UIN Saizu berharap dapat memperluas jangkauan edukasi halal, mempromosikan produk usaha lokal, serta memperkuat jejaring antarlembaga. Keterlibatan tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan ekosistem ekonomi syariah nasional.