Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, MP. Dosen Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
PURWOKERTO – Dosen Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), kembangkan inovasi dalam pengelolaan limbah peternakan. Salah satu terobosan tersebut adalah Aktivator BIOKULTURMIX. Aktivator ini dirancang untuk mempercepat proses penguraian limbah peternakan ruminansia. Kehadirannya tidak hanya memberikan solusi yang aplikatif bagi para peternak, tetapi juga mendapat pengakuan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai inovasi yang dinilai mampu memberikan kontribusi nyata dalam mendorong pengelolaan limbah peternakan yang lebih ramah lingkungan.
Penemu BIOKULTURMIX, Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, MP. mengatakan awal mula ide muncul berangkat dari kepeduliannya terhadap lingkungan. Menurutnya dunia peternakan menghasilkan limbah yang cukup banyak, jika tidak dimanfaatkan dengan baik dampaknya akan mengganggu lingkungan sekitar.
“Bagaimana mengolah limbah peternakan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kita tahu bahwa limbah peternakan itu sangat mencemari, sangat mengganggu. Kalau limbah pertanian mungkin hanya pemandangan membusuk tidak bau banget tapi kalau kotoran ternak itu kan luar biasa,” jelas Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, MP pada Rabu, 4 Februari 2026.
Produk BIOKULTURMIX merupakan activator yang dapat menguraikan limbah menjadi kompos dengan waktu yang terbilang cepat. Produk ini terbuat dari limbah yang ada di dalam perut sapi kemudian diproses melalui metode tertentu hingga akhirnya dapat menjadi activator.
Cara kerja BIOKULTURMIX agar menjadi kompos adalah dengan mencampur aktovator ini dengan kotoran ternak yang ditambahan serbuk gergaji kayu, abu, dan kapur dolomit. Nantinya mikroba yang ada dalam aktivator ini akan bekerja mengurai bahan kotoran tersebut. Satu liter BIOKULTURMIX dapat menghasilkan satu ton kompos. Dibandingkan dengan produk lainnya aktivator ini lebih cepat terurai, yaitu dalam waktu 14 hari.
BIOKULTURMIX ini sudah mendapat HKI sejak 2025, dan juga mendapat apresiasi dari BAPENNAS saat kunjungan ke Unsoed pada Jumat (23/1). Untuk Langkah kedepannya Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, MP. bersama dengan dosen Fakultas Peternakan Unsoed untuk saat ini sedang mendiskusikan pembuatan inovasi terbaru lainnya yang dapat membantu peternak.
“Saya ingin mencoba metode pembuatan pupuk yang lebih praktis karena membantu peternak atau petani. Jadi peternak atau petani itu kadang kendalanya mungkin capek dengan pembalikan seminggu sekali misalnya atau 4 hari sekali. Nanti kita akan carikan bagaimana metode atau alat apa yang bisa digunakan untuk peternak membuat lebih praktis lagi.”
Menurutnya metode yang digunakan peternak untuk proses pembuatan kompos sekarang memakan waktu yang cukup lama, diharapkan dengan adanya inovasi yang akan dikembangkan dapat mempercepat pengomposan.
Dampak nyata adanya produk aktivator ini terdapat pada peternakan rakyat, salah satu contoh di Desa Sumbang. Peternakan sapi dengan jumlah 60 ekor yang sebelumnya tidak dikelola sama sekali sekarang bahkan peternaknya sudah bisa menjual kompos secara rutin.
”Semakin cepat mengatasi limbah, berarti semakin cepat mengatasi polusi dan semakin cepat menjaga bumi, ” penutup dari Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, MP. kepada masyarakat agar lebih sadar lagi terhadap lingkungan sekitar.