PURWOKERTO – Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto resmi melepas sekitar 2.500 mahasiswa untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak 2026. Para mahasiswa akan diterjunkan ke berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga mancanegara melalui sejumlah skema KKN yang dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Mawi Khusni Albar Kapus Pengabdian LPPM UIN Saizu Purwokerto, menjelaskan bahwa tahun ini UIN SAIZU menyelenggarakan beberapa jenis KKN, mulai dari KKN Berdampak, KKN Internasional, KKN Kolaborasi PTKIN, KKN Nusantara, hingga KKN Responsif. Seluruh program tersebut diberangkatkan secara bersamaan meski memiliki jadwal pelaksanaan yang berbeda.
“Selain KKN Berdampak, ada juga KKN Internasional, KKN Kolaborasi PTKIN, KKN Nusantara, dan KKN Responsif. Hari ini semuanya kita lepas secara bersamaan meskipun pelaksanaannya memiliki jadwal masing-masing,” ujar Mawi.
Lima Kabupaten Jadi Lokasi KKN Dalam Negeri
Untuk KKN dalam negeri, mahasiswa akan disebar ke lima kabupaten, yakni empat kabupaten di Jawa Tengah dan satu kabupaten di Jawa Barat.
Keempat kabupaten di Jawa Tengah tersebut meliputi Banyumas, Purbalingga, Kebumen, dan Banjarnegara, sedangkan satu lokasi lainnya berada di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Menurut Mawi, konsep utama KKN tahun ini mengusung semangat “KKN Berdampak”, yang merupakan implementasi dari kurikulum nasional berbasis dampak.
“KKN Berdampak bukan sekadar kegiatan seremonial atau seperti event organizer. Mahasiswa harus mampu menghasilkan output, outcome, dan keberlanjutan program di masyarakat,” katanya.
Mengembangkan Potensi Desa Berbasis Aset
Berbeda dengan pola KKN konvensional, mahasiswa UIN SAIZU menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) atau pembangunan masyarakat berbasis aset.
Mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi dan pemetaan terhadap potensi desa sebelum menentukan program kerja.
“Masyarakat sebenarnya memiliki banyak aset. Tugas mahasiswa adalah menemukan aset tersebut melalui observasi dan wawancara, kemudian bersama masyarakat menyepakati apa yang bisa dikembangkan,” jelas Mawi.
Ia mencontohkan salah satu program yang telah berhasil dijalankan pada KKN sebelumnya adalah pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Dalam pendekatan ABCD, sampah tidak dipandang sebagai masalah semata, melainkan sebagai aset yang memiliki nilai ekonomi.
Program seperti Sedekah Sampah Berbasis Masjid maupun Bank Sampah terbukti mampu mengubah limbah menjadi sumber manfaat ekonomi bagi warga.
“Harapannya sampah yang semula dianggap masalah bisa berubah menjadi berkah. Kalau istilah kami, dari sampah menjadi berkah,” ujarnya sambil tersenyum.
Mawi menambahkan, masa KKN yang berlangsung sekitar 40 hari memang belum cukup untuk menyelesaikan seluruh program. Namun, konsep keberlanjutan menjadi kunci sehingga masyarakat dapat melanjutkan program tersebut setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Delapan Mahasiswa Lolos Seleksi KKN Internasional
Salah satu program unggulan tahun ini adalah KKN Internasional di Malaysia.
Sebanyak delapan mahasiswa UIN SAIZU akan diberangkatkan ke wilayah Kepulauan Semporna, Sabah, Malaysia, setelah melalui proses seleksi yang cukup ketat.
Awalnya terdapat 15 mahasiswa yang mengikuti seleksi. Namun, karena kuota yang diberikan mitra di Malaysia hanya delapan orang, pihak kampus melakukan seleksi bersama mitra luar negeri.
“Kami melakukan seleksi, bahkan pihak dari Malaysia juga ikut melakukan wawancara. Akhirnya hanya delapan mahasiswa yang dinyatakan lolos,” ungkap Mawi.
Ia menegaskan bahwa penilaian tidak hanya didasarkan pada kemampuan berbahasa.
Menurutnya, bahasa Melayu relatif mudah dipahami oleh mahasiswa Indonesia sehingga bukan menjadi kendala utama.
Yang lebih diprioritaskan justru adalah kompetensi khusus yang dibutuhkan masyarakat setempat.
“Yang dicari misalnya mahasiswa yang bisa mengajar mengaji, memiliki kemampuan desain grafis, videografi, sampai mampu mengemudikan mobil karena nanti mereka harus mobile berpindah-pindah pulau menggunakan kendaraan yang disediakan,” jelasnya.
Mengabdi di Pulau-Pulau Terpencil Malaysia
Selama berada di Malaysia, delapan mahasiswa tersebut akan dibagi menjadi tiga kelompok dan ditempatkan di sejumlah pulau terpencil di wilayah Semporna.
Akses menuju lokasi pengabdian bervariasi, mulai dari beberapa menit hingga perjalanan laut selama tiga jam.
Di lokasi tersebut, mahasiswa akan melakukan berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Mereka akan memberikan pendidikan dasar, mengajar mengaji, membantu pengelolaan sampah, hingga mendampingi masyarakat yang selama ini masih menghadapi persoalan administrasi kependudukan.
“Ada masyarakat yang bahkan belum memiliki identitas kependudukan sehingga tidak bisa mengakses berbagai layanan. Ada juga yang masih belum bisa membaca. Mahasiswa akan ikut melakukan edukasi dan pemberdayaan,” kata Mawi.
Diakui sebagai Program Internasional
Mawi menyebut program KKN Internasional UIN SAIZU memiliki nilai lebih dibandingkan program serupa yang hanya dilaksanakan di sekolah-sekolah Indonesia di luar negeri.
Menurutnya, mahasiswa benar-benar diterjunkan ke masyarakat luar negeri sehingga pengalaman internasional yang diperoleh lebih kuat dan diharapkan memberikan nilai akademik tersendiri.
“Kalau ini benar-benar berinteraksi dengan masyarakat luar negeri, melakukan pemberdayaan, mengajar, dan mendampingi masyarakat. Ini menjadi pengalaman internasional yang sangat berharga,” ujarnya.
Biaya Perjalanan Ditanggung Mahasiswa
Untuk pembiayaan, Mawi menjelaskan bahwa program KKN Internasional dilakukan dengan skema berbagi biaya.
Mahasiswa menanggung sendiri tiket pesawat menuju Malaysia, sedangkan pihak kampus memfasilitasi transportasi dari kampus menuju bandara dan sebaliknya.
Sementara selama berada di Malaysia, seluruh kebutuhan tempat tinggal dan biaya hidup ditanggung oleh pihak mitra.
“Tempat tinggal, konsumsi, dan kebutuhan hidup di sana disiapkan oleh mitra. Bahkan mahasiswa juga mendapatkan uang saku selama menjalankan pengabdian,” katanya.
Masa pengabdian di Malaysia disesuaikan dengan ketentuan izin tinggal sehingga berlangsung sekitar 28 hari efektif, meskipun keseluruhan rangkaian kegiatan tetap berada dalam siklus KKN sekitar 40 hari.
Program Internasional Berjalan Lima Tahun
Tahun 2026 menjadi tahun kelima pelaksanaan KKN Internasional UIN SAIZU.
Sebelumnya kampus pernah mengirim mahasiswa ke Thailand dan Filipina.
Namun, untuk sementara waktu kerja sama dengan Thailand dihentikan, sedangkan program di Filipina belum dilanjutkan karena mempertimbangkan aspek kemudahan pemenuhan konsumsi halal bagi mahasiswa.
Kini UIN SAIZU memfokuskan program internasional di wilayah Kepulauan Semporna, Sabah, Malaysia, yang telah menjadi lokasi binaan sekaligus mitra pengabdian masyarakat kampus.
Melalui program KKN Berdampak, UIN SAIZU berharap mahasiswa tidak hanya memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.