PURWOKERTO — Pusat Studi Kebijakan Publik dan Kepemimpinan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis kampus melalui diskusi publik bertajuk Creative Hub, UMKM, dan Digitalisasi: Pilar Ekosistem Ekonomi Kreatif Modern, yang digelar di Samara Cafe & Eatery, Senin (16/2/2026).
Diskusi ini menghadirkan Rektor UMP Jebul Suroso, Ketua Umum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) sekaligus anggota Komisi VI DPR RI Kawendra Lukistian, serta Pimpinan Redaksi Kuatbaca.com Jajang Y. Habib.
Kegiatan tersebut menjadi forum kolaborasi antara perguruan tinggi, pembuat kebijakan, pelaku UMKM, dan media dalam merumuskan strategi penguatan ekonomi kreatif di daerah, khususnya Banyumas dan sekitarnya.
Kampus Didukung Jadi Laboratorium Kewirausahaan
Dalam paparannya, Kawendra Lukistian menilai langkah UMP yang membuka akses UMKM masuk ke lingkungan kampus merupakan praktik baik yang masih jarang dilakukan perguruan tinggi di Indonesia.
Menurut dia, kampus semestinya tidak hanya menjadi pusat pendidikan formal, melainkan juga laboratorium kebermanfaatan sosial-ekonomi.

“Perguruan tinggi jangan berhenti pada fungsi akademik. Kampus bisa menjadi ruang praktik kewirausahaan. Mahasiswa didorong tidak hanya lulus dan mencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja,” ujar Kawendra.
Ia mendorong agar tugas akhir mahasiswa, termasuk skripsi, dapat diintegrasikan dengan pengembangan usaha rintisan (startup) atau UMKM kreatif. Dengan demikian, lulusan kampus memiliki pengalaman kewirausahaan sekaligus produk yang siap dikembangkan di pasar.
Tantangan Literasi Ekonomi Kreatif dan Skema Pembiayaan
Kawendra menambahkan, masih banyak pelaku usaha yang sejatinya bergerak di sektor ekonomi kreatif, tetapi belum menyadari identitas sektoralnya. Rendahnya literasi ini berdampak pada keterbatasan akses pembinaan dan pembiayaan.
Selain persoalan literasi, tantangan lain yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif adalah akses permodalan. Ia menyebut, pemerintah kini mulai mendorong skema pembiayaan berbasis kekayaan intelektual (IP Financing) bagi pelaku ekonomi kreatif.
“Skema pembiayaan berbasis IP ini menjadi terobosan agar karya kreatif, seperti film, desain, maupun produk digital, bisa dijadikan agunan. Tahun ini pemerintah mulai mengalokasikan dukungan pembiayaan untuk skema tersebut,” kata Kawendra.
UMP Targetkan Jadi Pusat Kajian Ekonomi Kebangsaan
Rektor UMP Jebul Suroso menyambut baik dukungan Gekrafs dan DPR RI terhadap inisiatif penguatan ekonomi kreatif berbasis kampus. Menurut dia, UMP tengah merancang langkah strategis untuk menjadikan Banyumas sebagai pusat kajian ekonomi kebangsaan.
Ia juga menyinggung pentingnya menghidupkan kembali pemikiran tokoh nasional asal Banyumas, Margono Djojohadikusumo, sebagai inspirasi pengembangan gerakan intelektual dan kewirausahaan di lingkungan kampus.
“Gagasan untuk mengintegrasikan pendidikan dengan kewirausahaan sangat relevan. Kami ingin mahasiswa UMP tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap membuka lapangan kerja. Potensinya besar, mulai dari film pendek, produk kreatif hasil riset, hingga karya digital,” ujar Jebul.
Ia menyebutkan, UMP berencana membangun proyek percontohan (pilot project) pengembangan ekonomi kreatif berbasis kampus dengan pendampingan dari Gekrafs dan jejaring mitra industri kreatif.
Creative Hub sebagai Ruang Inkubasi UMKM dan Talenta Muda
Diskusi tersebut menekankan pentingnya peran creative hub di lingkungan kampus sebagai ruang inkubasi ide, produksi karya kreatif, dan pengembangan UMKM berbasis digital. Creative hub diharapkan dapat mempertemukan mahasiswa, dosen, pelaku UMKM, serta praktisi industri kreatif dalam satu ekosistem kolaboratif.
Melalui pendekatan ini, perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan wirausaha muda yang adaptif terhadap perubahan teknologi, memiliki daya saing, serta berkontribusi pada penguatan ekonomi nasional.