Ekonomi Banyumas Raya Menguat Jelang Idul Fitri 2026, BI Purwokerto Perkuat Pengendalian Inflasi Pangan

PURWOKERTO — Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) Idul Fitri 2026 menjadi cermin geliat ekonomi di wilayah kerja Bank Indonesia Kantor Perwakilan Purwokerto. Di tengah meningkatnya permintaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya justru menunjukkan akselerasi yang solid sepanjang 2025.

Deputi Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Christoveny, memaparkan bahwa struktur ekonomi Banyumas Raya—yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap—masih didominasi Cilacap dari sisi nominal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

“Secara pangsa PDRB, Cilacap masih yang terbesar dengan kontribusi 49,22 persen terhadap total ekonomi Banyumas Raya. Setelah itu Banyumas, kemudian Purbalingga dan Banjarnegara,” ujarnya.

Berdasarkan sektor usaha, struktur ekonomi kawasan ini ditopang oleh industri pengolahan yang berkontribusi hampir 39 persen. Sektor pertanian menyusul dengan 14 persen, perdagangan 11 persen, serta konsumsi sekitar 9 persen.

Menurut Christoveny, tiga sektor utama—industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan—menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025.

“Industri pengolahan, terutama makanan dan minuman, tumbuh signifikan. Ini juga didukung berbagai program pemerintah yang berjalan lebih masif dibanding 2024,” katanya.

Sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, serta berbagai insentif fiskal mendorong peningkatan permintaan dan aktivitas produksi. Selain itu, kondisi cuaca yang relatif lebih baik pada 2025 turut mendukung kinerja sektor pertanian.

Pertumbuhan Lampaui Jateng dan Nasional

Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Banyumas Raya tercatat menguat dan berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Tengah maupun nasional.

Banyumas tumbuh 5,97 persen

Purbalingga 5,92 persen

Banjarnegara 5,26 persen

Cilacap 3,31 persen

Sebagai pembanding, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah berada di angka 5,37 persen dan nasional 5,11 persen.

“Seluruh daerah di Banyumas Raya mengalami akselerasi pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya. Banyumas misalnya, meski sedikit terkoreksi dari 6,35 persen pada 2024 menjadi 5,97 persen, tetap berada di atas rata-rata provinsi dan nasional,” jelasnya.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi. Belanja pemerintah pada 2025 meningkat seiring implementasi berbagai program strategis nasional.

Inflasi Meningkat Jelang Ramadan dan Idul Fitri

Di sisi lain, tekanan inflasi mulai terasa menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026. Berdasarkan data Februari 2026, inflasi bulanan di Purwokerto tercatat 0,78 persen, sementara Cilacap 0,80 persen.

Komoditas penyumbang utama inflasi antara lain beras, daging ayam ras, telur ayam, cabai rawit, bawang merah, serta emas. Harga emas yang tinggi dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global.

Secara tahunan, inflasi Februari 2026 tercatat 4,14 persen di Purwokerto dan 4,22 persen di Cilacap. Angka ini memang berada di atas target nasional 2,5±1 persen.

Namun, Christoveny menjelaskan bahwa tingginya inflasi tahunan dipengaruhi faktor base effect, terutama terkait kebijakan diskon tarif listrik pada periode sebelumnya.

“Karena ada perbedaan basis perhitungan tarif listrik tahun lalu, secara tahunan terlihat tinggi. Ke depan, ketika tarif kembali normal, inflasi diperkirakan kembali dalam rentang sasaran,” ujarnya.

Strategi Pengendalian Inflasi: Operasi Pasar hingga Fasilitasi Distribusi

Menghadapi momentum HKBN yang berbarengan dengan Imlek dan Ramadan, BI Purwokerto bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah stabilisasi harga melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Program ini merupakan pengembangan dari gerakan sebelumnya dan memiliki tujuh program unggulan, antara lain:

Operasi pasar dan pasar murah. 

Pasar tani dan penguatan sentra produksi. 

Fasilitasi distribusi pangan untuk menekan biaya logistik. 

Kolaborasi komunikasi publik bersama. pemerintah daerah dan media. 

BI juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dalam program pemberdayaan petani muda serta penguatan produksi komoditas strategis.

“Kami juga memfasilitasi distribusi pangan dari produsen ke lokasi pasar murah agar biaya logistik lebih efisien, sehingga harga di tingkat konsumen bisa lebih terkendali,” kata Christoveny.

Selain itu, kampanye belanja bijak dan komunikasi publik digencarkan melalui berbagai media untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat tetap terkendali.

Dengan fundamental pertumbuhan yang kuat dan koordinasi pengendalian inflasi yang intensif, BI Purwokerto optimistis stabilitas harga tetap terjaga selama Ramadan dan Idul Fitri 2026.

“Kami berharap momentum Idul Fitri ini tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, namun dengan inflasi yang terkendali. Sinergi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci,” tutupnya.

Di tengah dinamika global dan peningkatan permintaan musiman, Banyumas Raya menunjukkan bahwa pertumbuhan dan stabilitas bukan dua hal yang saling menegasikan—melainkan bisa berjalan beriringan melalui koordinasi kebijakan yang konsisten.