PURWOKERTO – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto, Haramain Billady, memaparkan kondisi sektor jasa keuangan di wilayah Banyumas Raya sepanjang 2025 dalam konferensi pers bersama wartawan, Kamis (19/2/2026). Meski kredit perbankan tumbuh, kinerjanya dinilai masih belum optimal karena persaingan ketat antarbank, khususnya antara bank umum dan BPR.
Haramain menjelaskan, pertumbuhan sektor perbankan di wilayah pengawasan OJK Purwokerto masih didominasi oleh bank umum, baik dari sisi aset maupun Dana Pihak Ketiga (DPK). Sementara itu, BPR tetap tumbuh, namun laju DPK dan kreditnya tertahan akibat kuatnya kompetisi dengan bank umum.
“Kontribusi pertumbuhan masih besar di bank umum. BPR tetap tumbuh, tetapi kalah cepat karena persaingan,” ujarnya.
Dari sisi penyaluran kredit berdasarkan jenis penggunaan, 54% kredit di Banyumas Raya mengalir ke modal kerja dan investasi, yang dinilai mampu menggerakkan sektor ekonomi daerah. Sementara itu, 38% kredit masih didominasi kredit konsumsi seperti perumahan, kendaraan bermotor, serta kredit ASN.
“Kalau modal kerja dan investasi mencapai lebih dari 50%, itu bagus karena langsung mendorong aktivitas ekonomi,” kata Haramain.
Ditinjau dari pelaku usaha, penyaluran kredit didominasi UMKM dengan porsi sekitar 60%, sedangkan non-UMKM sekitar 40%. Adapun sektor usaha yang paling banyak menyerap kredit adalah perdagangan besar dan eceran, pertanian, serta konstruksi. Karakter sektor ini berbeda antarwilayah, di mana Banjarnegara cenderung lebih kuat di pertanian, sementara Purwokerto dan Purbalingga didominasi perdagangan dan konstruksi.
Risiko Kredit Terkendali
Selama 2025, terdapat kenaikan rasio pembiayaan bermasalah (NPL), namun OJK memastikan pengendalian dilakukan agar tidak mengganggu stabilitas sektor keuangan di wilayah Banyumas Raya.
“Kami upayakan agar kenaikan NPL tidak sampai mengganggu stabilitas keuangan,” tegasnya.
LKM, LKS, dan Perusahaan Pembiayaan Ikut Tumbuh
Di sektor keuangan nonbank, LKM dan LKS juga mencatatkan pertumbuhan aset, DPK, serta pembiayaan, meski rasio pembiayaan bermasalah LKM masih di kisaran 16%. OJK juga baru memberikan izin operasional LKM di Banjarnegara sehingga total LKM di wilayah pengawasan OJK Purwokerto kini bertambah.
Sementara itu, perusahaan pembiayaan tumbuh 6,76% secara year-on-year. Penyaluran pembiayaan didominasi sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi dan perawatan kendaraan bermotor, sejalan dengan spesialisasi pembiayaan kendaraan.
Investor Pasar Modal Melejit
Per Desember 2025, minat masyarakat terhadap pasar modal di Banyumas Raya meningkat signifikan. Jumlah investor saham dan reksa dana tumbuh sekitar 30%, dengan total investor baru mencapai sekitar 500 ribu orang sepanjang 2025. Investor didominasi usia 21–30 tahun.
Untuk memperluas literasi, OJK mendorong pembukaan galeri investasi, termasuk galeri edukasi di SMA Negeri 2 Purwokerto pada 2025. Ke depan, OJK menargetkan pembukaan galeri investasi di luar Purwokerto agar literasi pasar modal lebih merata.
Edukasi Keuangan Diperluas, Hybrid Jadi Andalan
Sepanjang awal 2026, OJK Purwokerto telah menggelar empat kegiatan edukasi keuangan dengan total 1.467 peserta. OJK juga menerapkan metode hybrid (luring dan daring) agar jangkauan edukasi semakin luas. Salah satu kegiatan strategis adalah pelatihan kepada para penyuluh agama yang diharapkan dapat meneruskan edukasi keuangan kepada masyarakat binaannya, termasuk pengenalan keuangan syariah.
Pengaduan Masyarakat Naik, Waspada Kejahatan Keuangan Digital
Jumlah pengaduan masyarakat ke OJK terus meningkat. Dalam satu bulan terakhir saja tercatat lebih dari 100 pengaduan. Aduan terbanyak terkait restrukturisasi kredit, penagihan (debt collector), serta penyalahgunaan data pribadi.
OJK mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membagikan KTP atau data pribadi serta waspada terhadap tautan mencurigakan. Untuk memperkuat penanganan kejahatan keuangan dan investasi ilegal, OJK juga mengoordinasikan Satgas Pasti bersama kepolisian, kejaksaan, dan instansi terkait di Banyumas Raya.
“Kejahatan keuangan digital dan investasi ilegal makin marak. Edukasi masyarakat jadi kunci agar tidak mudah tertipu,” pungkas Haramain.