Berhenti Berlindung di Balik Kata ‘Cablaka’ Kalau Aslinya Anda Cuma Tidak Punya Sopan Santun.

Menyelami Filosofi Cablaka dan Subasita: Seni Berkata Jujur Tanpa Menyakiti

Wong Banyumas Cablaka / Blakasutha

Dalam pergaulan modern hari ini, kita sering terjebak dalam dua kutub ekstrem. Di satu sisi, ada budaya “asal jujur” yang mengagungkan kebebasan berpendapat namun sering kali berakhir menjadi ujaran kebencian atau kekasaran. Di sisi lain, ada budaya “basa-basi” yang saking santunnya, justru menutupi kebenaran dan melahirkan kemunafikan.

Apakah mungkin kita bisa menjadi pribadi yang autentik, jujur, dan apa adanya, namun tetap memegang teguh adab dan etika?

Jawabannya bisa kita temukan dengan membedah kearifan lokal dari wilayah Banyumas Raya. Ada dua terminologi penting yang sering disalahpahami, namun jika digali lebih dalam, menawarkan solusi emas bagi etika komunikasi kita: Cablaka dan Subasita.

Mendefinisikan Ulang: Apa Itu Cablaka dan Subasita?

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita dudukkan kedua istilah ini pada definisi yang sebenarnya, agar tidak terjadi kerancuan makna.

1. Cablaka / Blakasuta

Secara etimologi dan kultural, Cablaka (sering juga disebut Blakasuta) merujuk pada sikap mental dan cara berkomunikasi yang terbuka, transparan, dan tanpa tedeng aling-aling.

  • Esensi: Menghilangkan “topeng” dalam interaksi sosial. Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada sindiran halus (sanepa) yang membingungkan, dan tidak bermuka dua.
  • Filosofi: “Apa yang ada di hati, itulah yang keluar di lisan.” Ini adalah bentuk efisiensi komunikasi untuk menghindari salah tafsir.

2. Subasita

Ini adalah sisi koin yang sering terlupakan. Subasita adalah tatanan moral, tata krama, sopan santun, dan kepekaan sosial (social sensitivity).

  • Esensi: Kemampuan menempatkan diri sesuai dengan empan papan (situasi dan kondisi).
  • Filosofi: Penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia lain. Subasita adalah “pagar” yang memastikan interaksi sosial tetap berjalan harmonis dan beradab.

Miskonsepsi Fatal: Ketika “Jujur” Menjadi Alibi Kekasaran

Ada fenomena menarik—dan sedikit mengkhawatirkan—di mana istilah Cablaka sering kali “dibajak” untuk membenarkan perilaku kasar.

Banyak orang (termasuk sebagian warga Banyumas sendiri yang kurang memahami sejarah budayanya) beranggapan bahwa karena mereka menganut azas Cablaka, maka mereka bebas bicara kasar, memaki, atau melanggar batas privasi orang lain. Kalimat seperti, “Nyong kan wong Banyumas, ngomonge ya kaya kiye!” (Saya kan orang Banyumas, bicaranya ya begini!), sering dijadikan tameng.

Ini adalah pemahaman yang keliru.

Cablaka tanpa Subasita adalah arogansi. Kejujuran tanpa adab adalah kekejaman. Leluhur Banyumas tidak pernah mengajarkan anak cucunya untuk menjadi kasar. Justru, karakter egaliter (kesetaraan) yang mereka bangun didasarkan pada rasa hormat yang tinggi antar sesama.

Harmoni Sosial: Bagaimana Subasita Bekerja dalam Cablaka?

Di sinilah letak keindahan kearifan lokal tersebut. Seseorang yang benar-benar memahami budaya ini akan menerapkan Cablaka dalam kerangka Subasita. Kejujuran tetap disampaikan, namun kemasannya disesuaikan dengan siapa mereka berhadapan.

Berikut adalah bagaimana Subasita mengatur “lalu lintas” kejujuran tersebut dalam berbagai konteks sosial:

1. Kepada yang Lebih Tua (Senioritas)

Meskipun egaliter, hierarki usia tetap dihormati.

  • Penerapan: Seorang anak muda tetap bisa Cablaka (menyampaikan ketidaksetujuan atau pendapat jujur) kepada orang tua, namun intonasi suara direndahkan, bahasa tubuh menunduk, dan pemilihan katanya halus (bahkan menggunakan Krama Inggil/Bahasa Halus).
  • Nilai: Kritik disampaikan sebagai bentuk bakti, bukan pembangkangan.

2. Kepada Sesama Usia (Egaliter)

Di level ini interaksi memang paling cair, namun tetap ada aturan main.

  • Penerapan: Antar teman bisa saling meledek atau bicara keras, tetapi ada “kode etik” tak tertulis untuk tidak mempermalukan teman di depan umum atau menyinggung aib keluarga.
  • Nilai: Keakraban tidak boleh menghilangkan privasi.

3. Kepada yang Lebih Muda (Pengayoman)

Sering kali orang dewasa merasa berhak kasar pada yang lebih muda. Subasita menolak hal ini.

  • Penerapan: Menegur anak kecil atau junior dilakukan dengan tegas dan langsung pada intinya (Cablaka), tetapi tujuannya untuk mendidik (ngelingna), bukan merundung (bully) atau mematahkan mental.
  • Nilai: Kasih sayang yang tegas.

4. Interaksi Laki-laki dan Perempuan (Norma Susila)

Meskipun masyarakat Banyumas dikenal luwes, batasan gender dalam norma sosial dan agama sangat dijaga.

  • Penerapan: Cablaka tidak boleh melanggar norma kesusilaan. Guyonan atau keterbukaan antara laki-laki dan perempuan tetap memiliki batasan kepantasan (decent) untuk mencegah fitnah dan menjaga kehormatan masing-masing.

Pelajaran dari dinamika Cablaka dan Subasita ini sesungguhnya relevan bagi siapa saja, bukan hanya bagi orang Banyumas.

Di era media sosial di mana orang begitu mudah mengetik komentar pedas atas nama “kebebasan berpendapat” (yang sering disamakan dengan Cablaka), kita perlu memanggil kembali nilai Subasita.

Kita diajarkan bahwa Integritas adalah kunci. Jadilah orang yang jujur, yang “ya” adalah “ya”, dan “tidak” adalah “tidak”. Namun, bungkuslah kejujuran itu dengan Subasita—dengan adab, empati, dan penghargaan terhadap kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, kebenaran yang disampaikan dengan kasih sayang dan adab akan jauh lebih meresap ke dalam hati daripada kebenaran yang diteriakkan dengan kekasaran.