Purwokerto, purwokerto.info – Di sela kesibukannya sebagai Ketua DPC Peradi Suara Advokat Indonesia (SAI) Purwokerto, H. Djoko Susanto SH rupanya memiliki cara unik untuk merefleksikan hidup, yakni memasak. Bukan sembarang masakan, tetapi tumis pare, sayuran yang terkenal dengan rasa pahitnya, yang ia olah bersama udang dan disajikan dengan tempe goreng bumbu ketumbar bawang.
“Pare memang pahit, tapi kalau diolah dipadu dengan udang akan jadi lezat,” ujar pria yang akrab disapa Djoko Kumis itu. “Dimakan sama tempe goreng bumbu ketumbar bawang, itu seperti menjadikan kepastian hukum tetap terjaga, sederhana, tapi menguatkan,” lanjutnya.
Bagi Djoko, dapur bukan hanya tempat mengolah bahan makanan, tetapi juga ruang kontemplasi. Tumis pare baginya adalah metafora kehidupan, bahwa kepahitan bukan untuk dihindari, melainkan diolah dengan kesabaran dan kebijaksanaan hingga menjadi sesuatu yang dinikmati.
Di balik rasanya yang tegas, pare menyimpan banyak kebaikan. Sayuran ini dikenal mampu mengendalikan gula darah, berkat kandungan senyawa aktifnya, membantu menurunkan berat badan, karena rendah kalori namun tinggi serat, meningkatkan sistem kekebalan tubuh lewat antioksidan termasuk vitamin C, menjaga kesehatan pencernaan dan menurunkan kolesterol dan menyehatkan mata dan hati, serta mencegah anemia karena kandungan zat besinya.
Tak heran jika pare kerap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin hidup lebih sehat, meski harus melewati rasa pahit di awal.
Djoko melihat bahwa masakan ini mengajarkan pelajaran hidup yang mendalam.
“Tumis pare pahit mengajarkan kita tentang pahitnya hidup yang tetap bisa dilalui ketika kita menikmatinya,” katanya.
Dalam kesibukannya sebagai advokat yang kerap menemui persoalan kompleks, memasak tumis pare menjadi pengingat bahwa setiap tantangan dapat dihadapi dengan cara yang tepat. Seperti pare yang diolah bersama udang hingga seimbang rasanya, hidup pun perlu keberanian, seni, dan kesabaran untuk menemukan harmoninya.
Dan pada akhirnya, dari dapur kecil seorang pengacara, lahirlah bukan sekadar hidangan, tetapi filosofi sederhana, kehidupan mungkin pahit, tetapi dengan hati yang luas, pahit itu bisa menjadi lezat. ***
