Isra’ Mi’raj dan Makna Shalat: Sudah Melaksanakan Shalat, Masihkah Ada Kewajiban Lain?

Prof. Dr. H. Muh. Hizbul Muflihin., M.Pd

Guru Besar UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto 

Peristiwa Isra‘ Mi’raj terjadi pada akhir kenabian Muhammad SAW di Makkah, sekitar tahun ke-10 atau ke-11 (sekitar tahun 620-621 Masehi), pada malam 27 Rajab. Isra‘ berarti berjalan, dan perjalanan itu dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem). 

Sedangkan masjid adalah tempat sujud saat dimana seorang hamba Allah SWT meletakkan kepalanya di tanah (biasanya dijunjung tinggi, merasa serba mampu, kaya dan tahu). Sedangkan mi’raj adalah perjalanan naik dari Masjidil Aqsa ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha. 

14 Abad tahun yang lalu tiada kendaraan super canggih seperti sekarang tahun 2026, dan kendaraan yang ada saat itu ada adalah Kuda, Unta atau Gajah dan tidak ada pesawat ulang alik Apollo dan sejenisnya seperti yang kita ketahui dan lihat selama ini (sehingga wajar masih ada yang meragukan keisra’an dan kemi’rajan Rasulullah SAW). 

Isra‘ Mi’raj adalah perjalanan hamba yang sholih yang dikehendaki oleh Allah SWT dengan fasilitas dan skenario yang diatur olehNya. Perjalanannya terasa sangat istimewa karena Allah SWT mengerti bagaimana kegigihan dan kesungguhan serta kesabaran hambaNYa dalam berdakwah sudah maksimal, dan sudah dijalankan sesuai amanat yang dititipkan olehNYa, namun perjuangan itu terasa putus dan akan hilang tanpa bekas.

Hati Rasulullah berdetak keras dan terjadi rasa kontradiksi antara tetap berjuang dan berdakwah yang penuh dengan tantangan dari paman-pamannya maupun orang kafir quraisy, dengan perasaan lemas dan sedih karena dua orang yang selama ini menjadi benteng dalam berdakwah yaitu Siti Khadijah dan pamannya yaitu Abu Thalib meninggal dunia hampir bersamaan.

Obat Kesedihan Berbuah Manis

Kesedihan adalah sesuatu yang sangat mungkin bisa terjadi (Al-Baqarah 2 : 155) terhadap semua hamba Allah SWT. Dari kacamata hidup dan kehidupan, kesedihan disebabkan oleh kondisi kegagalan, ketidak berhasilan dan ketidak sesuaian antara apa yang diharapkan dengan apa yang diterima. 

Kesedihan secara material dan financial adalah kesedihan dalam hitungan akal, akan sembuh jika realitas akan menerima obatnya yiatu ketercukupan dan keberkahan. Kesedihan secara sosial terasa dirasakan oleh Rasulullah SAW saat orang-orang disekitarnya banyak yang menyerang, menjegal dan bahkan ada yang akan membunuhnya. 

Disinilah kekosongan jaring sosial menjadi magnet untuk membangkitkan kembali semangat untuk berdakwah di tengah komunitas sosial yang heterogin. Kesedihan yang sangat dirasakan oleh Rasulullah SAW yaitu perasaan berkecamuk dihati terasa ditinggalkan oleh sang kekasih Yang Maha Dipuja dan ditaati yang menentramkan hatinya dikala sedih yaitu Allah SWT.

Menyontek isi buku Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam AL Ghazali, dia menyatakan bahwa kesedihan akan bisa diobati dan dihilangkan dengan cara Taqarrub Ilallah dan Muhasabah serta Tawakal. Bermodal tiga hal ini Allah SWT Maha Tahu dan mengerti bagaimana mengobati rasulNYa dan hambaNYa secara tepat dan spektakuler yaitu diajak berjalan-jalan dari masjid ke masjid bahkan naik ke langit tujuh untuk berdialog secara langsung. 

Korelasi Melaksanakan dengan Mendirikan Sholat

Ayat perintah untuk melaksanakan sholat sangatlah banyak, namun ada satu ayat yang sangat mendasar yaitu mendirikan sholat (al-Ankabut, 45). Yang diawali dengan kata-kata “inna“ yang arti selengkapnya “Salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. 

Penggunaan kata “inna“ diawal yang merupakan harful ‘adatul hasyr‘, menandakan bahwa pesan yang ada didalamnya ada sesuatu yang sangat mendasar dan penting untuk diperhatikan secara serius.

Orang Islam memang wajib melaksanakan sholat dalam keadaan bagaimanapun dan dimanapun.

Namun substansi ayat 45 surat Al-Ankabut bukanlah sebatas melaksanakan sholat saja namun harus diikuti dengan kesiapan mendirikan sholat. Orang yang melaksanakan sholat terkadang dilakukan sebatas untuk menggugurkan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT, yang hanya ditandai dengan gerakan takbir diawal sholat dan diakhiri dengan salam.

Selain itu terkadang sholat dilakukan tanpa memperhatikan kondisi dan kesempurnaan serta kekhusyukan, apalagi jauh dari penghayatan.

Perintah sholat yang diterima oleh Rasulullah SAW saat Isra’ Mi’raj sangat sarat dengan nilai-nilai relasi sosial educatif, selain juga mengandung pendidikan kesabaran, keihlasan dan nilai pendidikan jasmani.

Menilik ayat 45 Al-Ankabut dibagian akhir berbunyi „tanha `anil fakhsyai wal mungkar“ dikandung maksud bahwa orang yang benar-benar melaksanakan sholat seharusnya juga mendirikan sholat ( (Iqamatus Sholah). 

Ketika Rasulullah SAW menyatakan “asholatu imadudin” ( الدين عماد الصلاة) yang artinya “Sholat adalah tiang agama” (HR. al-Baihaqi), menegaskan bahwa orang yang sholat harus mampu menegakkan tiang-tiang atau sendi-sendi susbtansi ajaran yang ada didalamnya. 

Masjid dan Geraka Jamaah

Orang yang menyelami dan menjiwai nilai-nilai substantif dibalik administratif/tekstual, seharusnya mampu mengerahkan dan dan menggerakkan hati, pikiran dan perbuatan untuk mencegah perbuatan keji dan munkar (fahsyak dan munkar), dengan cara mengontrol diri atas akhlak dan perilaku sehari-hari.

Kontrol diri akan terjadi ketika seseorang mampu menundukkan emosi, menenangkan hati dan memusatkan pikiran tentang perintah amar makruf nahi mungkar. Keterpanduan tiga dimensi ini pada akhirnya akan membuahkan kuatnya pondasi dan tameng diri dalam mengontrol setiap perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sarana untuk istiqomah dalam mongontrol diri dilakukan secara mandiri yaitu melaksanakan sholat berjamaah. Dengan sholat jamaah seseorang akan terbimbing hatinya untuk menaati gerakan imam, menjiwai apa yang dibaca imam dan berkesempatan luas untuk taqarrub kepada Allah SWT semaksimal mungkin. 

Frase mendirikan berarti juga tindakan nyata secara bersama-sama, apalagi jika hal ini berkaitan dengan soal mencegah kemungkaran tentu secara berjamaah akan lebih efektif. Gerakan mencegah kemungkaran melalui ajakan untuk istiqomah jamaah ke masjid yang akan mengalirkan energi besar berupa kesadaran untuk menghambakan diri kepada Allah SWT dengan benar-benar “tanha ‘anil fakhsyai wal munhkar.”

Ditinjau dari sudut sosial emosional, seserorang yang senantiasa berkumpul di masjid hatinya akan berbisik dan berkata, tidak akan mau melaksanakan salat hanya secara fisik tetapi tetap masih termasuk golongan orang yang celaka karena tidak mendirikan salat dengan benar (seperti dalam Surat Al-Ma’un).

Disinilah frase yang berbunyi dalam surat Thaha ayat 14: وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه: ١٤), yang artinya “Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S. Thaha:14),ini berrati orang yang sholat tentu akan ingat pesan-pesan sosial didalamnya untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar.