Begalan Jaka Kaiman, Pementasan Dua Warisan Budaya Tak Benda Banyumas

BANYUMAS – Kesenian Begalan adalah warisan leluhur Banyumas yang masih lestari hingga kini. Begalan merupakan sebuah tradisi dalam upacara pernikahan adat Banyumas. Ketika sepasang pengantin merupakan anak sulung menikah dengan anak sulung, anak bungsu menikah dengan anak bungsu, atau anak sulung menikah dengan anak bungsu.

Dalam pementasannya Begalan berisi untaian pitutur luhur dari para leluhur. Sebuah nasihat perkawinan kepada sepasang pengantin yang dilambangkan dengan bermacam perangkat peralatan rumah tangga.

Tak banyak orang Banyumas yang tahu sejarah awal mula ada tradisi Begalan. Juga, tidak banyak yang tahu bahwa Begalan Banyumas sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Banyumas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2018.

Selain Begalan, ada lagi kesenian Banyumas yang juga menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Banyumas, yaitu Gubrag Lesung, yang ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2020.

Gubrag Lesung adalah peninggalan leluhur masyarakat agraris. Zaman dulu, sebelum ada mesin penggiling padi dan tepung, lesung adalah alat untuk yang mengubah padi menjadi beras, serta beras menjadi tepung.

Gubrag Lesung adalah musik pelepas lelah para petani pada musim panen. Setelah memanen tanaman padinya, kemudian dijemur, sebagian besar masuk dalam lumbung, sebagian kecil ditumbuk menjadi beras untuk hidup sehari-hari.

Sambil menumbuk padi menjadi beras itulah, para petani membuat hiburan sendiri dengan memukulkan kayu alu ke lesung. Bertemunya pukulan batang kayu dengan papan lesung mengakibatkan suara merdu yang dijadikan sebagai musiknya. Sambil menumbuk mereka saling berdendang gembira.

Sayang, berbeda dengan Begalan yang masih lestari hingga kini, kesenian Gubrag Lesung sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat Banyumas.

Setelah mesin penggiling padi datang sekitar tahun 1980-an, lesung-lesung dihancurkan para pemiliknya. Lesung dikapak dan dijadikan kayu bakar, karena dianggap tidak lagi berguna. Jika dulu hampir semua orang mempunyai lesung, kini jarang orang memilikinya.

Karena itulah, Nassirun Purwokartun, seorang budayawan Banyumas mencoba menyelamatkannya.

Kang Nass, begitu biasa disapa, sejak 2019 berusaha mencari lesung yang masih tersisa dari berkeliling di desa-desa di wilayah Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Setelah mendapat tiga buah lesung, kemudian mengajak para tetangga memainkan gubrag lesung kembali.

Kang Nass memberi nama kelompok gubrag lesungnya: Pangastawa. Sebuah kata dalam bahasa Jawa Kawi yang menurut sang budayawan berarti “berdoa, memohon, dan berharap”.

“Dengan nama Pangastawa sebenarnya saya sedang mengajak para pelakunya untuk terus berdoa, memohon, dan berharap datangnya kebaikan dan kebahagiaan. Kalau dulu gubrag lesung dimainkan untuk melepas lelah setelah bekerja di sawah, sekarang menjadi hiburan di tengah himpitan beban kehidupan. Kalau Begalan berisi pitutur luhur para leluhur untuk mereka yang baru menikah, gubrag lesung berisi nasehat-nasehat kehidupan setelah berumah tangga,” demikian Kang Nass menjelaskan.

Untuk mengenalkan kembali dua kesenian Warisan Budaya Tak Benda Banyumas tersebut, Kang Nass yang juga menerjemahkan naskah-naskah Babad Banyumas, memadukannya menjadi sebuah pementasan bertajuk “Begalan Jaka Kaiman”.

“Sepertinya belum banyak yang tahu sejarah awal mula adanya tradisi Begalan di Banyumas. Setelah saya baca naskah-naskah Babad Banyumas, ternyata bermula dari pernikahan anak sulung Raden Jaka Kaiman. Akhirnya, saya angkat menjadi sebuah pagelaran,” begitu ungkap Kang Nass tentang awal mula niatnya mementaskan “Begalan Jaka Kaiman”.

Menurutnya, dua warisan Budaya Tak Benda Banyumas itu harus terus dilestarikan. Tidak hanya semangat untuk mendapat pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saja. Melainkan dalam penyelamatannya secara nyata dalam kehidupan.

“Saya ingin, gubgrag lesung kembali mengalun merdu. Agar tidak sia-sia pengakuan yang telah didapatkan dari pemerintah. Juga supaya tidak sekadar bangga mendapatkan pengakuan, namun tidak dilanjutkan dengan langkah nyata pelestariannya. Semoga Gubragan bisa sederajat dengan Begalan. Dua kesenian Banyumas tersebut sama-sama hidup kembali.”

Karena itulah, pada hari Sabtu besok, tanggal 26 September 2026, dalam rangkaian acara Festival Babad Banyumas, Kang Nass menggelar “Begalan Jaka Kaiman” di kampung halamannya, di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.

Dengan pementasan itu, Kang Nass ingin mengajak seluruh masyarakat Banyumas untuk bersama-sama melestarikan kesenian Banyumas.