Luckin Coffee dan Pelajaran dari Raksasa Kopi China yang Bangkit dari Skandal

Tidak Lagi Mengandalkan Keberuntungan, Luckin Tumbuh dengan Efisiensi, Teknologi, dan Ekspansi Agresif

PURWOKERTO – Luckin Coffee bukan sekadar merek kopi yang mudah ditemukan di China. Gerai-gerainya hadir hampir di setiap sudut kota, mulai dari kawasan permukiman, gedung perkantoran, stasiun kereta, hingga pusat perbelanjaan.

Pemandangan tersebut dialami langsung Brili Agung, Wakil Ketua HIPMI Institute sekaligus pengamat bisnis, ketika berkeliling sejumlah kota di China pada Agustus lalu.

Menurutnya, masifnya kehadiran Luckin Coffee di berbagai lokasi menunjukkan strategi ekspansi yang tidak biasa. Namun, di balik ribuan gerai tersebut, terdapat transformasi bisnis yang jauh lebih menarik.

“Luckin yang tidak mengandalkan lucky,” tulis Brili Agung dalam refleksi bisnisnya.

Ia menilai, kebangkitan Luckin Coffee menjadi salah satu contoh paling menarik dalam industri makanan dan minuman modern. Perusahaan yang pernah berada di ambang kehancuran akibat skandal keuangan itu kini justru berkembang menjadi salah satu pemain terbesar industri kopi global.

Pendapatan Capai Rp35 Triliun per Kuartal

Laporan keuangan kuartal kedua (Q2) 2026 Luckin Coffee menunjukkan performa bisnis yang signifikan.

Berdasarkan laporan resmi perusahaan, pendapatan bersih Luckin Coffee mencapai 15,89 miliar RMB atau sekitar 2,34 miliar dolar AS dalam tiga bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026. Angka tersebut meningkat 28,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika dikonversikan dengan nilai tukar rupiah, pendapatan tersebut setara lebih dari Rp35 triliun dalam satu kuartal.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan jumlah gerai, volume penjualan produk, serta bertambahnya pelanggan aktif bulanan.

Tidak hanya dari sisi pendapatan, Luckin juga mencatatkan ekspansi jaringan yang agresif.

Hingga akhir Juni 2026, perusahaan mengoperasikan 36.310 gerai, terdiri atas 23.734 gerai yang dikelola sendiri dan 12.576 gerai kemitraan.

Dalam satu kuartal saja, Luckin membuka 2.714 gerai baru di berbagai negara, termasuk China, Singapura, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Jumlah pelanggan yang melakukan transaksi setiap bulan juga mencapai rekor 112,7 juta orang.

Dari sisi profitabilitas, Luckin mencatat laba operasional berbasis GAAP sebesar 2,13 miliar RMB dengan margin operasional sekitar 13,4 persen.

Angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Luckin tidak semata-mata ditopang oleh ekspansi agresif atau promosi harga murah. Perusahaan tersebut mulai menunjukkan kemampuan membangun bisnis dengan skala besar sekaligus menghasilkan keuntungan.

Pernah Di Ambang Kehancuran

Padahal, beberapa tahun sebelumnya, nama Luckin Coffee justru identik dengan skandal besar.

Pada 2020, perusahaan tersebut tersandung kasus manipulasi laporan keuangan. Investigasi regulator Amerika Serikat menemukan adanya transaksi penjualan fiktif senilai lebih dari 300 juta dolar AS.

Kasus tersebut mengguncang kepercayaan investor dan menyebabkan Luckin Coffee dikeluarkan dari Bursa Nasdaq pada Juli 2020.

Perusahaan juga harus membayar denda 180 juta dolar AS kepada Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat terkait kasus penipuan akuntansi tersebut.

Pada saat itu, masa depan Luckin Coffee dipertanyakan. Banyak pihak memperkirakan perusahaan akan sulit bertahan dalam persaingan industri kopi yang semakin ketat.

Namun, kenyataan justru berjalan berbeda.

Luckin melakukan pembenahan internal secara besar-besaran. Manajemen lama dibersihkan, tata kelola diperbaiki, dan strategi bisnis diarahkan pada efisiensi operasional, pengembangan produk, serta pemanfaatan teknologi digital.

Perusahaan tidak lagi semata-mata mengejar pertumbuhan jumlah gerai. Fokusnya bergeser pada bagaimana setiap gerai mampu menghasilkan pendapatan secara efisien.

Perang Bisnis Bukan Lagi Sekadar Bakar Uang

Menurut Brili, transformasi Luckin memberikan pelajaran penting bagi pelaku usaha.

“Hebatnya, Luckin melakukan turnaround bisnis paling fenomenal dalam sejarah industri F&B modern,” tulisnya.

Ia melihat, perusahaan tersebut berhasil mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Dari bisnis yang sebelumnya dikenal agresif melakukan promosi dan ekspansi, Luckin mulai membangun sistem bisnis yang lebih terukur.

Kunci utamanya terletak pada unit economics, yaitu kemampuan setiap gerai menghasilkan keuntungan setelah memperhitungkan biaya operasional.

Selain itu, Luckin memperkuat riset dan pengembangan produk atau research and development (R&D), memperbaiki rantai pasok, serta mengembangkan sistem digital yang terintegrasi.

Strategi tersebut membuat perusahaan mampu memperluas jaringan secara cepat tanpa harus mengandalkan model bisnis konvensional yang membutuhkan investasi besar untuk setiap gerai.

Teknologi Menjadi Mesin Utama Pertumbuhan

Salah satu hal yang paling menarik dari model bisnis Luckin adalah integrasi teknologi dalam seluruh proses transaksi.

Ketika mengunjungi gerai Luckin di China, Brili mengamati bahwa pelanggan hampir tidak perlu mengantre di depan kasir.

Pelanggan dapat memesan kopi melalui aplikasi, termasuk platform digital yang terintegrasi dengan ekosistem pembayaran seperti Alipay. Pesanan dilakukan sebelum pelanggan tiba di gerai dan produk sudah disiapkan ketika pelanggan datang.

Model ini mengubah pengalaman membeli kopi menjadi lebih cepat dan praktis.

Tidak ada kebutuhan kasir dalam jumlah besar. Tidak banyak meja atau ruang duduk yang harus disediakan. Sebagian besar gerai dirancang dengan konsep grab-and-go, sehingga biaya sewa dan operasional dapat ditekan.

Lebih dari itu, setiap transaksi menghasilkan data yang dapat digunakan perusahaan untuk memahami perilaku konsumen.

Data tersebut menjadi dasar pengembangan produk baru, strategi promosi, penentuan lokasi gerai, hingga pengelolaan persediaan bahan baku.

Dengan demikian, teknologi bukan hanya alat pembayaran. Teknologi menjadi bagian utama dari mesin bisnis Luckin Coffee.

Tantangan Jika Luckin Masuk Indonesia

Pertanyaan kemudian muncul: bagaimana jika Luckin Coffee membawa ekspansi penuhnya ke Indonesia?

Brili menilai, kemungkinan masuknya pemain global dengan model bisnis seefisien Luckin akan menjadi tantangan serius bagi industri kopi lokal.

Indonesia sendiri memiliki pasar kopi yang besar dan terus berkembang. Berbagai merek lokal telah tumbuh dengan pendekatan yang beragam, mulai dari kedai tradisional, coffee shop premium, hingga jaringan kopi grab-and-go.

Namun, menurut Brili, masih terdapat sejumlah persoalan struktural yang dihadapi pelaku usaha lokal.

Sebagian bisnis F&B masih mengandalkan model kafe dengan biaya sewa tinggi, interior estetik yang membutuhkan investasi besar, serta jumlah tenaga kerja yang relatif banyak.

Selain itu, ketergantungan pada platform pengiriman pihak ketiga juga dapat meningkatkan beban komisi dan mengurangi margin keuntungan.

“Jika raksasa F&B yang sudah teruji tahan banting dan seefisien Luckin masuk ke Indonesia dengan amunisi penuh, brand lokal yang masih mengandalkan cara konvensional dan biaya operasional tinggi berisiko tergerus tajam,” ujarnya.

Namun, ia juga menilai Indonesia memiliki keunggulan yang tidak bisa diabaikan.

Brand kopi lokal memiliki pemahaman terhadap selera konsumen, budaya nongkrong, karakter daerah, serta kekuatan komunitas yang belum tentu dimiliki pemain asing.

Karena itu, persaingan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki modal terbesar, melainkan siapa yang mampu menggabungkan efisiensi, kualitas produk, inovasi, dan pemahaman terhadap pasar lokal.

Pelajaran Penting bagi Pebisnis Indonesia

Kisah Luckin Coffee, menurut Brili, menyampaikan dua pesan penting bagi dunia usaha.

Pertama, krisis tidak selalu menjadi akhir dari sebuah bisnis.

Perusahaan yang mengalami kegagalan masih memiliki peluang untuk bangkit apabila mampu melakukan evaluasi mendasar terhadap tata kelola, strategi, dan operasional.

Kedua, persaingan bisnis masa depan akan semakin ditentukan oleh efisiensi rantai pasok dan kedalaman integrasi teknologi.

Dalam industri F&B, harga murah saja tidak cukup. Produk berkualitas juga belum tentu menjamin keberhasilan apabila biaya operasional terlalu tinggi.

Perusahaan harus mampu menciptakan sistem yang membuat seluruh proses bisnis bekerja secara efisien, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, distribusi, pemasaran, transaksi, hingga hubungan dengan pelanggan.

“Persaingan F&B masa depan adalah perang efisiensi rantai pasok serta kedalaman integrasi teknologi,” kata Brili.

Ia mengajak pelaku usaha kopi dan F&B Indonesia untuk mulai melihat perubahan tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang.

Menurutnya, kehadiran pemain global seperti Luckin Coffee seharusnya mendorong brand lokal melakukan pembenahan, bukan sekadar bertahan dengan cara lama.

Pertanyaan besarnya kini bukan hanya apakah Luckin Coffee akan masuk ke Indonesia.

Lebih dari itu, apakah industri kopi lokal sudah memiliki benteng bisnis yang cukup kuat untuk menghadapi era persaingan yang semakin mengandalkan teknologi, efisiensi, dan skala ekonomi?