DPMPTSP Banyumas Perkuat Kolaborasi Petani Cabai dan Dunia Usaha melalui Temu Kemitraan

PURWOKERTO– Pemerintah Kabupaten Banyumas terus mendorong penguatan sektor pertanian melalui kemitraan antara petani dan pelaku usaha. Upaya tersebut diwujudkan dalam kegiatan Temu Kemitraan 2026 yang digelar oleh Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Banyumas dengan menghadirkan petani milenial, perbankan, pelaku usaha, serta sejumlah pemangku kepentingan.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Penanaman Modal Perijinan Terpadu Satu Pintu ( DPM PTSP) Banyumas Rony Hidayat. Ia menegaskan bahwa sektor pertanian, khususnya komoditas cabai, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai penggerak ekonomi daerah.

Dalam sambutannya, Rony mengapresiasi seluruh peserta yang hadir dan berharap forum tersebut mampu melahirkan sinergi nyata antara petani dengan dunia usaha sehingga pemasaran hasil pertanian menjadi lebih terjamin.

“Bapak dan Ibu sekalian, mari kita manfaatkan forum ini untuk berdiskusi dan membangun kemitraan. Harapannya, petani memperoleh kepastian pasar, sementara pelaku usaha mendapatkan pasokan komoditas yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujarnya.

Rony mengungkapkan, berdasarkan data BPS Banyumas Dalam Angka 2025, luas tanam cabai di Kabupaten Banyumas mencapai sekitar 178,62 hektare, sedangkan produksi cabai rawit mencapai 14.121 kuintal. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa Banyumas memiliki peluang besar menjadi salah satu daerah penghasil cabai yang mampu memenuhi kebutuhan pasar regional bahkan nasional.

“Ini merupakan peluang besar bagi Kabupaten Banyumas. Jangan sampai kebutuhan cabai justru dipenuhi dari luar negeri, sementara lahan pertanian kita sangat subur,” katanya.

Ia kemudian mengingatkan pentingnya belajar dari pengalaman komoditas lain yang masih bergantung pada impor. Salah satunya adalah kedelai yang menjadi bahan baku industri tahu dan tempe.

Rony menuturkan, saat bertugas di Kecamatan Cilongok, dirinya melihat langsung bagaimana para pengrajin tahu mengalami kesulitan ketika pasokan kedelai impor terganggu. Bahkan, saat terjadi konflik internasional yang memengaruhi distribusi kedelai, harga bahan baku melonjak sehingga banyak produsen harus memperkecil ukuran produk atau mengurangi produksi.

“Ini menjadi pelajaran bagi kita. Jangan sampai komoditas pangan strategis terus bergantung pada negara lain. Padahal Indonesia dikenal sebagai negeri yang tanahnya subur,” ujarnya.

Selain cabai, Rony juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan sektor pertanian melalui regenerasi petani. Menurutnya, saat ini semakin sedikit generasi muda yang tertarik menekuni dunia pertanian, sehingga perlu didorong munculnya petani-petani milenial yang mampu mengembangkan usaha tani secara modern.

Ia mengapresiasi munculnya anak-anak muda Banyumas yang mulai serius mengembangkan budidaya cabai dengan pendekatan bisnis yang profesional. Langkah tersebut dinilai menjadi harapan baru bagi masa depan pertanian daerah.

“Kita prihatin karena semakin sedikit anak muda yang mau bertani. Padahal ke depan sektor pertanian sangat menentukan ketahanan pangan. Karena itu kita perlu mendukung petani milenial agar terus berkembang,” katanya.

Rony juga menyinggung potensi komoditas lain seperti kelapa yang selama ini menjadi bahan baku gula kelapa khas Banyumas. Menurutnya, inovasi budidaya, penelitian varietas unggul, hingga pengembangan teknologi pertanian perlu terus dilakukan agar produksi tetap terjaga dan mampu bersaing di pasar.

Ia berharap hasil pertanian Banyumas tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri, tetapi juga memiliki daya saing hingga pasar ekspor.

Melalui kegiatan Temu Kemitraan tersebut, pemerintah ingin mempertemukan petani dengan lembaga pembiayaan, pembeli, serta pelaku usaha sehingga terbentuk rantai pasok yang saling menguntungkan. Dengan demikian, petani memperoleh akses pasar yang lebih luas, sementara pelaku usaha mendapatkan pasokan produk pertanian secara berkelanjutan.