PURWOKERTO – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menguji sejumlah produk hasil pengembangan kepada 300 responden. Produk yang diuji meliputi mi fungsional bebas gluten berbasis tepung singkong termodifikasi dan berbagai produk olahan nanas. Uji coba tersebut dilaksanakan di Oemah Daun Cafe&Resto pada Senin-Selasa, 14-15/9/26.
Kegiatan bertajuk “Produksi Skala Pilot dan Pra-Komersial Mie Fungsional Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi bagi Peningkatan TKT dan Akselerasi Komersialisasi Industri” tersebut dimulai pukul 08.30 WIB. Sebanyak 200 responden mengikuti uji coba pada hari pertama dan 100 responden pada hari kedua. Responden berasal dari lingkungan Unsoed dan masyarakat umum.
Mi fungsional bebas gluten berbasis tepung singkong termodifikasi menjadi salah satu produk utama yang diuji. Responden diminta mencicipi dan memberikan penilaian terhadap produk sebagai bahan evaluasi sebelum dikembangkan lebih lanjut menuju tahap pemasaran.
Selain mi, tim juga menguji sejumlah produk olahan nanas dalam berbagai varian. Produk tersebut meliputi cocktail premium dengan gula rendah kalori dan cocktail biasa dengan gula pasir, minuman nanas original, minuman nanas dengan campuran teh, serta jelly drink. Produk lainnya berupa sirup atau konsentrat nanas, selai nanas, dan selai nanas dengan campuran labu siam.
Pembimbing kegiatan, Dr. Santi Dwi Astuti, STP., M.Si., mengatakan bahwa uji coba dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai penerimaan konsumen terhadap produk yang telah dikembangkan. Hasil penilaian responden akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan aspek produk yang masih perlu disempurnakan.
“Uji coba ini penting untuk melihat bagaimana penerimaan konsumen terhadap produk yang sudah kami kembangkan. Dari penilaian dan masukan responden, kami dapat mengetahui bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki, baik dari formulasi maupun karakteristik produknya,” jelas Dr. Santi.
Menurutnya, tahapan uji coba kepada konsumen menjadi bagian penting sebelum produk diarahkan pada produksi yang lebih luas dan tahap komersialisasi.
“Kami berharap hasil uji coba ini dapat memberikan data dan masukan yang cukup untuk penyempurnaan produk, sehingga produk yang nantinya diproduksi bersama mitra benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan penerimaan konsumen,” lanjutnya.
Masukan dari responden juga menjadi bagian dari evaluasi tingkat penerimaan produk. Kritik dan saran yang diperoleh selama uji coba akan digunakan sebagai bahan perbaikan formulasi sebelum produk dikembangkan dan dipasarkan.
“Tujuannya yang pertama untuk menilai respons atau umpan balik dari konsumen. Dari situ bisa diketahui apakah masih ada kekurangan atau kritik terhadap produk, sehingga formulanya dapat diperbaiki sebelum dipasarkan,” ujar Yuyun, salah satu anggota tim yang membantu pelaksanaan kegiatan.
Pelaksanaan uji coba turut melibatkan mahasiswa dari bidang agribisnis, teknologi pertanian, dan teknologi pangan. Pada hari pertama, sebanyak 20 mahasiswa mendampingi 200 responden, sedangkan pada hari kedua sebanyak 10 mahasiswa mendampingi 100 responden.
Berdasarkan respons awal selama pelaksanaan uji coba, minuman nanas menjadi salah satu produk yang banyak disukai responden, disusul selai dan jelly drink.
“Kalau dilihat dari respons kemarin dan hari ini, yang paling banyak disukai adalah minuman nanas, kemudian selai dan jelly drink,” kata Yuyun.
Kegiatan ini menjadi bagian dari tahapan penilaian produk sebelum dilakukan pengembangan lebih lanjut. Hasil penilaian dan tanggapan 300 responden selanjutnya menjadi bahan pertimbangan tim dalam menentukan produk yang akan diproduksi bersama mitra dan diarahkan menuju tahap pemasaran.