Di tengah arus perubahan zaman, sosok perempuan tangguh kembali hadir dari Banyumas. Khasanatul Mufidah tampil sebagai representasi nyata Kartini masa kini—memimpin dengan ketegasan, namun tetap mengedepankan nilai keikhlasan dan pengabdian.
Sebagai Ketua BAZNAS Kabupaten Banyumas, ia mencatat sejarah sebagai satu-satunya perempuan yang menduduki posisi tersebut di Jawa Tengah, sekaligus masuk dalam jajaran 11 ketua BAZNAS perempuan se-Indonesia. Kepemimpinannya bukan sekadar simbol, tetapi bukti bahwa perempuan mampu berada di garis depan pengelolaan lembaga publik berbasis kepercayaan umat.
Dalam kiprahnya, Khasanatul Mufidah tidak hanya memimpin secara administratif, tetapi juga membangun sistem yang kuat dan berorientasi hasil. Berbagai capaian prestisius berhasil diraih, mulai dari penghargaan pengumpulan zakat terbanyak tingkat nasional, hingga implementasi SOP tercepat yang diakui secara nasional. Ini menjadi indikator bahwa profesionalisme bisa berjalan beriringan dengan nilai-nilai spiritual.
Tak berhenti di situ, keberhasilannya juga tercermin dalam tata kelola kelembagaan yang semakin modern dan akuntabel. Sertifikasi ISO 9001:2015, predikat unggul dalam sistem manajemen BAZNAS (SIMBA), hingga capaian kinerja di atas 100 persen menjadi bukti bahwa kepemimpinan perempuan mampu membawa organisasi menuju standar internasional.
Lebih dari sekadar angka dan penghargaan, Khasanatul Mufidah menghadirkan pendekatan kepemimpinan yang humanis. Ia mengedepankan nilai amanah, inovatif, dan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat. Di sinilah esensi Kartini masa kini menemukan relevansinya—bukan hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi menghadirkan dampak nyata bagi umat.
Relasi Sosial Kegamaan
Mungkin banyak yang tidak tahu, bagaimana Khasanatul Mufidah samapai pada titik ini karena proses panjang. Penuh tempaan. Salah satunya, mengasah kepekaan organisasi sejak IPPNU hingga ke Jakarta. Juga, pernah menjadi nahkoda Himpaudi Banyumas alias Bunda Paud. Juga sukses melakukan banyak kegiatan dan memajukan dunia pendidikan anak usia dini.
Relasi sosial keagamaan, juga begitu kentara saat Khasanah berkiprah di organisasi Muslimat. Badan otonom Nahdlatul Ulama wadah untuk ibu-ibu progresif. Memulai sejak di PAC dan kini menjadi salah satu motor penggerak di Pimpinan Cabang Muslimat NU Banyumas yang dipimpin Hj. Laely Mansur. Khasanah, menyebut hidup ini adalah pengabdian tanpa henti dimanapun, kapanpun dan sebagai apapun.
Figur ini menjadi inspirasi bahwa perempuan tidak hanya mampu bermimpi besar, tetapi juga mewujudkannya dalam kerja nyata. Dari Banyumas, Khasanatul Mufidah membuktikan bahwa semangat Kartini terus hidup—bertransformasi menjadi kekuatan kepemimpinan yang solutif, adaptif, dan berdaya saing global.
Tim Redaksi purwokerto.info